BAWASLU SUMSEL HARAP GENERASI Z TINGKATKAN LITERASI DIGITAL TANGKAL HOAKS PADA PEMILU 2024
|
Anggota Bawaslu Sumsel Massuryati di sela-sela kegiatan Sosialisasi Pengawasan Penyelenggaraan Pemilu Partisipatif “Peran Mahasiswa Calon Tenaga Kesehatan dalam Pengawasan Partisipatif menghadapi Pemilu Tahun 2024 yang diselenggarakan di The Zuri Hotel Palembang, Sabtu (02/12/2023).
Palembang, Bawaslu Sumsel – Anggota Bawaslu Sumsel Massuryati berharap kalangan generasi muda dapat meningkatkan kemampuan literasi digital dalam menangkal hoaks, informasi yang mengandung ujaran kebencian dan politisasi suku, agama, ras, dan golongan (SARA) pada tahapan Pemilu 2024. Generasi Z (Gen Z) dapat menjadi aktor yang dapat membawa agenda pemberantasan hoaks.
“Bawaslu Sumsel akan tetap merangkul Gen Z untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Gen Z harus dapat memfilter berita-berita yang beredar, harus mampu memisahkan berita yang akurat sesuai fakta dan berita hoaks,” katanya di sela-sela kegiatan Sosialisasi Pengawasan Penyelenggaraan Pemilu Partisipatif “Peran Mahasiswa Calon Tenaga Kesehatan dalam Pengawasan Partisipatif menghadapi Pemilu Tahun 2024 yang diselenggarakan di The Zuri Hotel Palembang, Sabtu (02/12/2023).
Bawaslu Sumsel berkomitmen untuk menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 pasal 280. Pengawasan informasi-informasi yang beredar di masyarakat tentu saja tidak dapat dilakukan oleh Bawaslu sendiri, butuh peran aktif masyarakat agar pengawasan terhadap berita-berita hoax, ujaran kebencian, dan SARA dapat berjalan efektif.
“Melalui kegiatan sosialisasi pengawasan penyelenggaraan pemilu partisipatif ini, kami berharap kalangan Gen Z mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi agen anti-hoax pada tahapan Pemilu 2024 yang efektif,” ucap perempuan asal Bumi Caram Seguguk tersebut.
Lebih lanjut, alumni IAIN Raden Fatah Palembang itu ingin agar peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut menjadi generasi yang bijak dalam menyebarkan informasi. Apalagi saat ini sudah masuk tahapan kampanye, berita-berita hoaks akan semakin banyak.
“Kami ingin adanya generasi yang kuat, yang dewasa dalam menyebarkan informasi. Generasi yang berwawasan dan kritis dalam menerima informasi yang beredar di masyarakat,” jelasnya.
Dikesempatan yang sama, Dr. Conie Pania Putri, SH.,MH menjelaskan media sosial menyimpan potensi kerawanan pemilu. Potensi ujaran kebencian sebesar 50%, penyebaran informasi hoax 30% dan isu sara 20%. “Untuk mencegah potensi kerawanan pemilu tersebut maka mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga integritas pemilu 2024 serta mencerdaskan pemilih untuk menciptakan pemilu yang bermartabat,” katanya saat menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.
Conie menjelaskan Gen Z harus paham literasi digital terutama saat tahapan Pemilu 2024. Untuk menangkal isu-isu negatif, Gen Z dapat menggunakan strategi efektif dan kreatif untuk melawan praktek yang merusak demokrasi.
Terakhir, menurutnya Gen Z dapat berperan sebagai agen perubahan untuk meningkatkan literasi politik masyarakat dan membantu pemilih dalam memahami konsep dan implikasi pemilu. Cara yang dapat digunakan adalah dengan membuat konten pendidikan politik yang mudah dipahami oleh masyarakat, menyebarkan informasi-informasi positif terkait kepemiluan, dan memerangi informasi hoaks dengan cara menjelaskan fakta yang sebenarnya kepada masyarakat luas.
Penulis : Annisa Karimah
Editor : A Fajri Hidayat
Foto : Bobby Aditya Nugraha