KENAKAN BAJU ADAT, 67 ANGGOTA BAWASLU KABUPATEN/KOTA SE-SUMSEL IKUT PECAHKAN REKOR DUNIA
|
Rahmat Bagja saat proses Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/Janji Anggota Bawaslu/Panwaslih Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Sabtu (19/8/2023)
Jakarta, Bawaslu Sumsel – Ketua Bawaslu Rahmat Bagja melantik 67 Komisioner Bawaslu Kabupaten/Kota di Sumsel, di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Sabtu (19/8/2023) malam. Pada pelantikan tersebut, sebanyak 1.912 komisioner dari 514 kabupaten/kota di Indonesia mengenakan baju adat dari masing-masing daerah asal mereka.
Tak hanya para komisioner yang dilantik, pimpinan beserta kepala sekretariat Bawaslu Provinsi, dan pimpinan dan Sekretaris Jenderal Bawaslu Republik Indonesia yang hadir dalam acara tersebut juga mengenakan pakaian khas tempat kelahiran mereka. Ketua Bawaslu Rahmat Bagja misalnya mengenakan beskap dan blangkon khas sunda. Koordintor Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa (HPS) Totok Haryono memakai baju khas Jawa Timuran, dengan kaus merah garis-garis, sedangkan Koordinor Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, Pendidikan dan Pelatihan (SDMOD), Herwyn J. H. Malonda tampak menggunakan pakaian khas Minahasa. Sementara Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi (PP Datin) memakai baju adat Betawi. Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Lolly Suherti tidak hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut karena sedang sakit.
Dari Bawaslu Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ketua Kurniawan, Koordinator Divisi SDMOD Ardiyanto dan Kepala Sekretariat Rahmat Fauzi Mursalin kompak mengenakan beskap berwarna merah, dilengkapi Tanjak dan Kain Songket Merah berpadu benang emas, pakaian adat Palembang. Pakaian adat dengan tema serupa juga dipakai dengan 67 komisioner dari 17 Bawaslu Kabupaten/Kota di Sumsel.
Tak hanya komisioner dan kepala sekretariat, pembawa acara acara pelantikan Bawaslu/Panwaslih Kabupaten/Kota-pun mengenakan baju adat Sumsel. Pratiwi Eka Putri, sang pembawa acara terlihat cantik mengenakan busana Aesan Gede, yang biasanya dipakai mempelai Perempuan dalam acara resepsi pernikahan dengan adat Sumsel.
Ketua Bawaslu Rahmat Bagja dalam sambutannya, mengatakan penggunaan baju adat sebagai dress code pelantikan, memiliki makna Bhineka Tunggal Ika, berbeda namun tetap satu. “Bapak Ibu, bajunya macam-macam, ada yang merah, ada yang putih, ada yang hijau ada yang coklat. Tapi saya yakin, Bapak – Ibu sesuai dengan sumpah dan janji pada saat diucapkan tadi mempunyai tujuan yang sama, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia” ujar Bagja.
Bagja berharap keragaman latar belakang para anggota Bawaslu tidak menjadikan perpecahan tapi memperkuat lembaga Bawaslu. “(Keragaman) Itulah yang akan menjadi dasar penyelanggaraan pemilu di Indonesia,” tegas Bagja.
Ketua Bawaslu Sumsel Kurniawan, didampingi Koordinator Divisi SDMOD Ardiyanto mengatakan, segera setelah dilantik, seluruh anggota Bawaslu dari 17 Kabupaten/Kota di Sumsel segera bekerja ke kantor masing-masing untuk melaksanakan tugas pengawasan pemilu. “Sudah tidak ada waktu lagi ber-euforia, segera bekerja, tahapan sudah berjalan,” kata Kurniawan.
Pecahkan Rekor Dunia
Kegiatan pelantikan Bawaslu/Panwaslih Kabupaten/Kota se-Indonesia ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia untuk kategori Pelantikan Pejabat Publik Terbanyak Mengenakan Busana Adat. Pendiri MURI Jaya Suprana menyatakan seharusnya pelantikan dengan busana adat tersebut, bukan hanya rekor Indonesia, tapi rekor dunia. Sebab, dia mengaku belum pernah menyaksikan lebih dari 1.900 mengenakan pakaian adat yang beragam hadir dalam waktu, dan kegiatan yang sama.
“Maka dengan bangga dan terharu, saya maklumatkan rekor hari ini adalah rekor dunia,” ujar budayawan yang menyebut dirinya pakar kelirumologi itu.
Penulis : A. Fajri Hidayat
Editor : Bobby Aditya Nugraha
Foto : Publikasi dan Dokumentasi Bawaslu RI